Sunday, 20 March 2011

Kisah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Topik hari ni difokuskan kepada kisah Nabi Sulaiman dan burung Hud Hud dalam surah An-Naml. Dan dibawah ini saya sertakan kisahnya dengan lebih jelas. Moga renung-renungkan dan selamat beramal ! :)

KISAH NABI DAUD DAN SULAIMAN


Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman adalah nabi-nabi utama dari kalangan Bani Israil. Allah himpunkan bagi keduanya nubuwwah (kenabian) dan hikmah serta kerajaan yang besar dan kuat.
Nabi Dawud sebelumnya adalah seorang prajurit dalam pasukan Thalut yang telah dipilih oleh salah seorang Nabi dari Bani Israil sebagai raja mereka. Thalut dipilih karena keberanian, kekuatan serta luasnya ilmu pengetahuan tentang pemerintahan dan siasat perang. Hal ini sebagaimana Allah firmankan:
“Dan Allah menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (Al-Baqarah 247)
Ketika mereka berhadapan dengan Jalut serta tentaranya, pasukan Thalut bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah. Dawud ternyata melampaui keberanian mereka. Segera dia menghadapi Jalut dan membunuhnya, sehingga sisa pasukannya menderita kekalahan. Dan Allah menolong Bani Israil.
Kemudian Allah mengangkat Dawud menjadi Nabi dan memberinya hikmah serta kerajaan yang kuat. Allah berfirman:
“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah.” (Shad: 20)
Allah telah memberinya kekuatan dalam beribadah dan ilmu pengetahuan. Bahkan mensifatkannya dengan dua sifat ini, yang merupakan ciri kesempurnaan seseorang. Allah berfirman:
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia seorang yang awwab.” (Shad:17)
Di sini Allah sifati beliau sebagai seorang yang memiliki kekuatan besar dalam melaksanakan perintah Allah. Dan beliau adalah seorang yang awwab karena begitu sempurna pengetahuannya tentang Allah.
Allah telah menundukkan burung-burung dan gunung-gunung agar bertasbih bersamanya. Beliau telah pula diberi anugerah oleh Allah berupa suara yang merdu yang belum pernah diterima oleh manusia sebelumnya.
Nabi Dawud biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiganya, lalu tidur lagi pada seperenamnya. Beliau biasa berpuasa sehari dan sehari berbuka. Apabila bertemu dengan musuh, maka siapapun akan melihat keperkasaan beliau yang menakjubkan. Allah k telah pula melunakkan besi baginya dan mengajarinya bagaimana membuat baju besi, perisai dan alat-alat perang lainnya. Beliaulah orang pertama membuat semua alat tersebut.
Allah pernah menegur beliau dengan mengutus dua orang malaikat sebagai dua orang yang sedang bersengketa. Kedua malaikat itu menemui Nabi Dawud di mihrab, sehingga beliau merasa terkejut, karena mereka masuk pada waktu yang tidak diizinkan seorangpun masuk ketika itu dengan cara memanjat dinding mihrab.
Allah berfirman menceritakan hal ini:
“Jangan takut. Kami dua orang yang berselisih. Salah seorang dari kami berbuat dzalim terhadap yang lain. Maka berilah keputusan di antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (Shad:22)
Kemudian salah seorang menerangkan keadaan mereka, katanya: ”Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing –yang dimaksudkannya adalah wanita (isteri)– sedangkan saya hanya mempunyai satu ekor. Lalu dia (saudaraku ini) berkata: ‘Serahkanlah kambingmu kepadaku,’ dan dia mengalahkan saya dalam perdebatan. Artinya, alasan dia lebih kuat sehingga mengalahkan pendapat saya.”
Lalu Dawud berkata, sebagaimana diceritakan oleh Allah:
“Sesungguhnya dia telah berbuat dzalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan amat sedikitlah mereka itu.” (Shad:24)
Akhirnya Nabi Dawud mengetahui bahwa dialah yang dimaksud dalam kasus tersebut, beliaupun tersadar. Allah berfirman:
“Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka diapun meminta ampun kepada Rabbnya, menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni kesalahannya dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Shad: 24-25)
Akhirnya Allah menghapus dosa beliau dan keadaannya jauh lebih baik daripada sebelum kejadian itu. Beliau mendapat tempat yang sangat dekat di sisi Allah dan kesudahan yang baik.
Allah berfirman:
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi. Maka berilah keputusan dengan adil di antara manusia. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena hawa nafsu itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Shad:26)
Sedangkan kepada Nabi Sulaiman bin Dawud, Allah telah memberinya nubuwah (kenabian), mewarisi ilmu, nubuwah dan kerajaan ayahnya. Bahkan Allah memberikan tambahan baginya kerajaan yang besar yang belum pernah dimiliki siapapun sebelum ataupun sesudahnya.
Allah menundukkan kepadanya angin yang berhembus menurut ke mana saja beliau kehendaki, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan di waktu sore juga sama dengan perjalanan sebulan. Juga para jin dan syaithan serta Ifrit, yang mengerjakan untuknya pekerjaan besar menurut keinginannya. Mereka membuat untuk Nabi Sulaiman gedung-gedung tinggi, patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang (tetap di atas tungku). Mereka datang dan pergi kemanapun sesuai kehendaknya.
Allah juga menundukkan kepadanya pasukan dari manusia, jin dan burung-burung lalu mereka diatur dengan tata tertib yang mengagumkan. Allah mengajarkan kepada beliau pengertian tentang suara burung dan seluruh hewan yang ada. Dan mereka kadang mengajak beliau berbicara dan beliau pun memahami pembicaraan mereka. Oleh sebab itu beliau dapat berdialog dengan Hud Hud dan menanyainya, juga mengerti ucapan seekor semut ketika mengingatkan semut-semut lainnya. Allah berfirman:
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (An-Naml: 19)
Semut itu memperingatkan dan memerintahkan supaya para semut itu melindungi diri mereka dari Sulaiman dan pasukannya. Nabi Sulaiman tersenyum dan tertawa mendengar kata-kata semut itu, lalu berkata: 
“Wahai Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua ibu bapakku. Dan agar aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (An-Naml:19)
Salah satu bentuk kebaikan dan ketelitian pengaturan beliau adalah beliau sendiri yang langsung turun tangan memeriksa pasukannya. Padahal sudah ada masing-masing yang menjadi pengawas mereka. Juga karena firman Allah yang berbunyi “Mereka diatur dengan tertib dalam barisan,” menunjukkan hal itu. Sehingga beliau sendiri mencari burung-burung agar mengetahui apakah dia berada di markasnya atau tidak. Allah k menceritakan hal ini dalam Al Qur`an ketika Nabi Sulaiman tidak melihat burung Hud Hud, beliau berkata:
“Mengapa aku tidak melihat Hud Hud, apakah dia temasuk yang tidak hadir?” (An-Naml: 20)
Dan bukan seperti komentar sebagian mufassir bahwa beliau mencari Hud Hud adalah agar mencarikan daerah yang banyak airnya seberapa jauh dari tempat mereka saat itu. Karena sesungguhnya tanggapan tersebut berbeda jauh dengan susunan kalimat Al Qur‘an. Allah tidak mengatakan bahwa beliau mencari Hud Hud, tapi justeru mengatakan dalam ayat itu
“Dan dia memeriksa burung-burung”.
Kemudian Nabi Sulaiman mengancamnya karena telah menyelisihi perintahnya. Namun karena kerajaannya ditegakkan di atas keadilan, beliau menyebutkan pengecualian. Allah berfirman menceritakan hal ini:
“Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika dia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang jelas. Maka tidak lama kemudian datanglah Hud Hud, lalu ia berkata:”Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba` suatu berita yang penting diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah. Dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. Mengapakah mereka tidak sujud (menyembah) kepada Allah Yang Mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit dan bumi. Dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. Allah, tidak ada ilah kecuali Dia, Rabb yang Mempunyai ‘arsy yang besar.” (An-Naml: 21-26)
Dalam kesempatan yang demikian singkat ini, Hud Hud datang membawa berita besar ini. Disampaikannya kepada Nabi Sulaiman tentang penguasa negeri Yaman, seorang ratu. Dan ratu itu dianugeahi segala yang dibutuhkan oleh seorang penguasa, bahkan mempunyai singgasana yang besar. Hud Hud ternyata bukan hanya memahami kerajaan dan kekuatan mereka, tetapi juga mengerti apa yang menjadi keyakinan rakyat Saba`. Mereka adalah orang-orang yang musyrik, menyembah matahari. Hud Hud dengan tegas mengingkari kesyirikan yang mereka lakukan.
Hal ini menunjukkan bahwa hewan-hewan itu sesungguhnya mengenal Rabb (Yang menciptakan, memberi dan mengatur rizki) mereka, di mana mereka juga bertasbih memuji dan mentauhidkan-Nya. Mereka mempunyai rasa cinta kepada orang-orang yang beriman dan mereka juga taat kepada Rabbnya. Bahkan mereka juga membenci orang-orang kafir dan orang yang mendustakan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Mereka tunduk kepada Allah dengan sikap ini. 
(Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar, Sumber: asysyariah.com, dalam Kategori Ibrah)

No comments: